IkhLas BeraMaL

IKHLAS BERAMAL

Allah berfirman :
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan”. ( QS 36 : 33 ).
Ayat tersebut – meskipun pendek dan sederhana – bercerita tentang hal yang amat luarbiasa agung dan besarnya. Banyak sekali orang-orang Islam yang hafal ayat 33 surat Yâsîn tersebut, terutama mereka yang suka mendawamkan pembacaannya pada kurun waktu tertentu. Tetapi, karena begitu seringnya dibaca dan dihafal, sampai-sampai keagungan ajaran ayat tersebut tidak mampu menyentuh kedalam jiwa para penghafal dan pembacanya. Sama seperti ketika manusia menghirup udara yang mengandung oksigen ketika bernafas. Jarang sekali manusia yang berfikir bahwa udara segar itu menyehatkan paru-paru dan diperoleh secara gratis. Manusia baru merasa begitu berharganya oksigen ketika dia terkapar sakit dan harus ditolong dengan bantuan oksigen yang tidak gratis.
Artinya, manusia cenderung tidak menghargai sesuatu yang melimpah-limpah dan mudah diperoleh. Kenyataan itulah yang menyebabkan para ahli ekonomi menyimpulkan teori supplay and demand, hukum penawaran dan permintaan. Jika barang tersedia melimpah di pasar dan permintaan sedikit, maka harga akan turun. Sebaliknya, harga akan naik, jika permintaan naik dan persediaan sedikit.
Ayat yang kita bahas ini pun bercerita tentang hal yang sangat agung, sangat luarbiasa dan sangat penting. Begitu pentingnya, sehingga Allah menyimpannya dengan perumpamaan atau simbolisasi yang sangat lembut, yang ada di sekitar kita bahkan ada pada diri kita.
Allah mengawalinya dengan kata : wa âyatu lahum al-ardl, yang berarti dan suatu tanda atau ayat bagi mereka adalah bumi. Di sini, Allah memberitahukan kepada kita bahwa bumi adalah ayat-Nya yang harus diperhatikan oleh manusia. Lalu dilanjutkan dengan pernyataan berikutnya, yaitu al maytâtu ahyainâha wa akhrojnâ minha habban yang diterjemahkan menjadi bumi itu diciptakan mati, lalu Kami menghidupkannya dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian. Itu adalah sebuah pernyataan bahwa bumi itu pada dasarnya tidak dapat menghasilkan apa-apa. Bumi boleh saja hijau royo-royo tetapi tidak menjadi jaminan bahwa karena ijo royo-royo lalu dapat memberikan manfaat kepada manusia. Tidak. Ada kuasa yang tidak terbantahkan, yakni jika Allah tidak menjadikan bumi itu hidup, maka dia tidak bermanfaat.
Sebaliknya, ada bumi yang kering kerontang, orang Jawa mengatakan lemahe cengkar, tandus, tetapi tidak secara otomatis bahwa bumi yang tandus itu tidak memberikan manfaat. Banyak bumi tandus yang hanya berupa padang pasir dan nyaris tidak pernah tersentuh hujan. Tetapi karena Allah berhendak menghidupkan bumi itu, maka bumi itu pun memberi manfaat kepada manusia.
Itu adalah fenomena alam yang berada di luar kita. Semua gambaran itu tidak akan memberikan manfaat apa-apa, jika pandangan dan perhatian kita hanya tertuju kepada fenomena itu. Paling-paling, manusia hanya akan mengatakan “Maha Besar Allah” atau “Maha Suci Allah”. Walaupun ucapan itu penting dan harus, tetapi jika hanya berupa ucapan saja, maka ia akan menguap tanpa memberikan bekas berupa perubahan tingkah laku manusia.
Dalam dunia pendidikan proses memahami fenomena di luar diri, disebut sebagai outside in. Sehingga apa saja yang masuk ke dalam diri kita baik ayat Allah yang tertulis maupun yang tidak tertulis, dia baru berupa informasi. Baru berupa wacana, belum menjadi perilaku.
Maka jika kita ingin menjadikan ayat itu memberikan perubahan tingkah laku, kita harus melihatnya di kedalaman diri kita. Ini yang disebut sebagai proses inside out, yaitu memampukan diri untuk berbuat sesuatu atau melakukan sesuatu melalui amaliah. Nah, dalam proses melihat kedalam diri, mari kita lihat, apa yang dimaksud oleh Allah dengan bumi. Allah sedang mengingatkan kita, bahwa unsur jasadiah kita adalah unsur kebumian karena jasad ini berasal dari bumi atau unsur-unsur bumi yang disebut tanah. Tanah yang subur, bumi yang ijo royo-royo, itu adalah jasad manusia yang sehat, gemuk, perkasa, berkuasa, pandai. Tetapi, unsur-unsur jasad yang seperti itu, tidak secara otomatis mampu memberikan manfaat. Begitu pula, tanah yang tandus, lemah cengkar itu adalah jasad manusia yang kurus kering, tampak lemah, miskin, tidak punya kekuasaan. Tetapi, unsur-unsur jasad yang seperti itu tidak secara otomatis tidak bermanfaat.
Jika Allah menghidupkan, atau menjadikan jasad itu hidup, maka barulah dia dapat memberi manfaat. Artinya, Allahlah yang memasukkan unsur kehidupan, yaitu roh, sehingga jasad dapat berbuat sesuatu.
Lalu Allah melanjutkan wa akhrojna minha habban faminhu ya’qulûn, lalu keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Di bagian ini, Allah menyebut biji-bijian. Ini adalah sebuah perumpamaan yang halus. Allah memakai istilah biji-bijian. Kita tahu, bahwa biji-bijian itu baru akan tumbuh dan mengeluarkan hasil bila ditanam di dalam tanah. Pengertian ditanam, adalah dimasukkan ke dalam tanah sehingga tersembunyi atau tidak kelihatan, tidak tampak oleh mata.
Biji yang menghasilkan buah adalah biji yang ditanam. Biji di sini adalah amal atau perbuatan manusia. Sedangkan buah itu adalah perumpamaan dari manfaat, atau sebutlah pahala. Maka, amal atau perbuatan manusia baru akan memberikan manfaat atau berbuah pahala, jika ia dilakukan dengan diam-diam, tidak dinampakkan. Amal yang dipamer-pamerkan itu yang disebut riya’.
Banyak sekali nasehat supaya manusia beramal dengan ihlas. Rasulullah saw menyatakan dengan bahasa “jika tangan kananmu memberi, jangan sampai tangan kirimu tahu”, maknanya, manusia harus menyimpan rapat-rapat amalnya jangan sampai ada orang yang tahu. Syeikh Ibnu ‘Athoillah asy-Syakandari dalam karyanya yang trersohor Al-Hikam memberi nasehat : “pendamlah dirimu di dalam tanah kerendahan. Sebab segala benih yang tidak ditanam di dalam tanah, tidak akan membuahkan hasil yang sempurna”. Maknanya, manusia harus menyembunyikan amalnya seperti menanam biji dikedalam tanah supaya amal itu berbuah sempurna. Kemudian, Sri Mangkunegara IV dalam karyanya Serat Wulangreh dalam pupuh Sinom mengatakan : “Laku utama adalah beramal tapi disembunyikan, tidak ditunjuk-tunjukkan, tujuan bathin disembunyikan, tetapi perbuatannya dikerjakan dengan sungguh-sungguh”. Maknanya, manusia yang ingin menjadi utama tingkah lakunya adalah bekerja sungguh-sungguh tanpa keinginan untuk dikenal.
Ayat 33 surat Yâsîn memberitahukan kepada kita, bahwa Allah yang melakukan semuanya tanpa bantuan siapa pun. Dia mengajarkan kepada manusia bahwa eksistensi atau keberadaan siapa pun akan diakui jika ada karya yang dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Allah rela tidak disembah, rela tidak dikenal, tetapi Dia tidak berhenti berbuat. Menghidupkan bumi, menumbuhkan biji-biji yang ada di dalam tanah, menurunkan hujan dari langit dan semuanya. Bahkan Dia tidak keberatan dengan manusia yang mengingkari Nya. Dia tetap menyediakan rejeki kepada semua mahlukNya.
Maka, ayat itu pun mengajarkan kepada manusia untuk terus bekerja dan berkarya, karena eksistensi manusia itu pun akan diakui jika karyanya atau hasil pekerjaannya bermanfaat untuk manusia lain dan alam sekitarnya. Tetapi manusia pun harus rela tidak dikenal, rela diingkari, rela dicemooh dan direndahkan. Paling tidak, karya manusia itu bermanfaat bagi dirinya. Kemudian jika benar niat dan amalnya, maka Allah pasti mengetahui.
Wa Allahu a’lam bi al shawab. [*].

Ikhlas Dalam Beramal

Kategori Hadits | 02-07-2009 | 14 Komentar

Diriwayatkan dari Amir al-Mukminin (pemimpin kaum beriman) Abu Hafsh Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ مانوي . فمن كانت هجرته الي الله ورسوله فهجرته الي الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلي ما هاجر إليه
“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari [Kitab Bad'i al-Wahyi, hadits no. 1, Kitab al-Aiman wa an-Nudzur, hadits no. 6689] dan Muslim [Kitab al-Imarah, hadits no. 1907])

Faedah Hadits
Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa niat merupakan timbangan penentu kesahihan amal. Apabila niatnya baik, maka amal menjadi baik. Apabila niatnya jelek, amalnya pun menjadi jelek (Syarh Arba’in li an-Nawawi, sebagaimana tercantum dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 26).
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Bukhari mengawali kitab Sahihnya [Sahih Bukhari] dengan hadits ini dan dia menempatkannya laiknya sebuah khutbah [pembuka] untuk kitab itu. Dengan hal itu seolah-olah dia ingin menyatakan bahwa segala amal yang dilakukan tidak ikhlas karena ingin mencari wajah Allah maka amal itu akan sia-sia, tidak ada hasilnya baik di dunia maupun di akhirat.” (Jami’ al-’Ulum, hal. 13)
Ibnu as-Sam’ani rahimahullah mengatakan, “Hadits tersebut memberikan faedah bahwa amal-amal non ibadat tidak akan bisa membuahkan pahala kecuali apabila pelakunya meniatkan hal itu dalam rangka mendekatkan diri [kepada Allah]. Seperti contohnya; makan -bisa mendatangkan pahala- apabila diniatkan untuk memperkuat tubuh dalam melaksanakan ketaatan.” (Sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fath al-Bari [1/17]. Lihat penjelasan serupa dalam al-Wajiz fi Idhah Qawa’id al-Fiqh al-Kulliyah, hal. 129, ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 39-40)
Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan, hadits ini juga merupakan dalil yang menunjukkan tidak bolehnya melakukan suatu amalan sebelum mengetahui hukumnya. Sebab di dalamnya ditegaskan bahwa amalan tidak akan dinilai jika tidak disertai niat [yang benar]. Sementara niat [yang benar] untuk melakukan sesuatu tidak akan benar kecuali setelah mengetahui hukumnya (Fath al-Bari [1/22]).
Macam-Macam Niat
Istilah niat meliputi dua hal; menyengaja melakukan suatu amalan [niyat al-'amal] dan memaksudkan amal itu untuk tujuan tertentu [niyat al-ma'mul lahu].
Yang dimaksud niyatu al-’amal adalah hendaknya ketika melakukan suatu amal, seseorang menentukan niatnya terlebih dulu untuk membedakan antara satu jenis perbuatan dengan perbuatan yang lain. Misalnya mandi, harus dipertegas di dalam hatinya apakah niatnya untuk mandi biasa ataukah mandi besar. Dengan niat semacam ini akan terbedakan antara perbuatan ibadat dan non-ibadat/adat. Demikian juga, akan terbedakan antara jenis ibadah yang satu dengan jenis ibadah lainnya. Misalnya, ketika mengerjakan shalat [2 raka'at] harus dibedakan di dalam hati antara shalat wajib dengan yang sunnah. Inilah makna niat yang sering disebut dalam kitab-kitab fikih.
Sedangkan niyat al-ma’mul lahu maksudnya adalah hendaknya ketika beramal tidak memiliki tujuan lain kecuali dalam rangka mencari keridhaan Allah, mengharap pahala, dan terdorong oleh kekhawatiran akan hukuman-Nya. Dengan kata lain, amal itu harus ikhlas. Inilah maksud kata niat yang sering disebut dalam kitab aqidah atau penyucian jiwa yang ditulis oleh banyak ulama salaf dan disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam al-Qur’an, niat semacam ini diungkapkan dengan kata-kata iradah (menghendaki) atau ibtigha’ (mencari). (Diringkas dari keterangan Syaikh as-Sa’di dalam Bahjat al-Qulub al-Abrar, sebagaimana tercantum dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 36-37 dengan sedikit penambahan dari Jami’ al-’Ulum oleh Ibnu Rajab hal. 16-17)
Pentingnya Ikhlas
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian orang yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2)
al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menafsirkan makna ‘yang terbaik amalnya’ yaitu ‘yang paling ikhlas dan paling benar’. Apabila amal itu ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Begitu pula apabila benar tapi tidak ikhlas, maka juga tidak diterima. Ikhlas yaitu apabila dikerjakan karena Allah. Benar yaitu apabila di atas sunnah/tuntunan (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyat al-Auliya’ [8/95] sebagaimana dinukil dalam Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 50. Lihat pula Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)
Pada suatu saat sampai berita kepada Abu Bakar tentang pujian orang-orang terhadap dirinya. Maka beliau pun berdoa kepada Allah, “Ya Allah. Engkau lah yang lebih mengetahui diriku daripada aku sendiri. Dan aku lebih mengetahui diriku daripada mereka. Oleh sebab itu ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka kira. Dan janganlah Kau siksa aku karena akibat ucapan mereka. Dan ampunilah aku dengan kasih sayang-Mu atas segala sesuatu yang tidak mereka ketahui.” (Kitab Az Zuhd Nu’aim bin Hamad, dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 119)
Mutharrif bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Baiknya hati dengan baiknya amalan, sedangkan baiknya amalan dengan baiknya niat.” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19). Ibnu al-Mubarak rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak pula amal besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)
Seorang ulama yang mulia dan sangat wara’ (berhati-hati) Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada niatku.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 19)
Pada suatu ketika sampai berita kepada Imam Ahmad bahwa orang-orang mendoakan kebaikan untuknya, maka beliau berkata, “Semoga saja, ini bukanlah bentuk istidraj (yang membuatku lupa diri).” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)
Begitu pula ketika salah seorang muridnya mengabarkan pujian orang-orang kepada beliau, maka Imam Ahmad mengatakan kepada si murid, “Wahai Abu Bakar. Apabila seseorang telah mengenali hakikat dirinya sendiri maka ucapan orang tidak akan berguna baginya.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)
Ad Daruquthni rahimahullah mengatakan, “Pada awalnya kami menuntut ilmu bukan semata-mata karena Allah, akan tetapi ternyata ilmu enggan sehingga menyeret kami untuk ikhlas dalam belajar karena Allah.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 20)
Asy Syathibi rahimahullah mengatakan, “Penyakit hati yang paling terakhir menghinggapi hati orang-orang salih adalah suka mendapat kekuasaan dan gemar menonjolkan diri.” (Al I’tisham, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 20)
Di dalam biografi Ayyub As Sikhtiyani disebutkan oleh Syu’bah bahwa Ayyub mengatakan, “Aku sering disebut orang, namun aku tidak senang disebut-sebut.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)
Seorang ulama mengatakan, “Orang yang benar-benar berakal adalah yang mengenali hakikat dirinya sendiri serta tidak terpedaya oleh pujian orang-orang yang tidak mengerti hakikat dirinya” (Dzail Thabaqat Hanabilah, dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 118)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Tahun ibarat sebatang pohon sedangkan bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, jam-jam adalah daun-daunnya dan hembusan nafas adalah buah-buahannya. Barang siapa yang pohonnya tumbuh di atas kemaksiatan maka buah yang dihasilkannya adalah hanzhal (buah yang pahit dan tidak enak dipandang, pent) sedangkan masa untuk memanen itu semua adalah ketika datangnya Yaumul Ma’aad (kari kiamat). Ketika dipanen barulah akan tampak dengan jelas buah yang manis dengan buah yang pahit. Ikhlas dan tauhid adalah ’sebatang pohon’ di dalam hati yang cabang-cabangnya adalah amal-amal sedangkan buah-buahannya adalah baiknya kehidupan dunia dan surga yang penuh dengan kenikmatan di akherat. Sebagaimana buah-buahan di surga tidak akan akan habis dan tidak terlarang untuk dipetik maka buah dari tauhid dan keikhlasan di dunia pun seperti itu. Adapun syirik, kedustaan, dan riya’ adalah pohon yang tertanam di dalam hati yang buahnya di dunia adalah berupa rasa takut, kesedihan, gundah gulana, rasa sempit di dalam dada, dan gelapnya hati, dan buahnya di akherat nanti adalah berupa buah Zaqqum dan siksaan yang terus menerus. Allah telah menceritakan kedua macam pohon ini di dalam surat Ibrahim.” (Al Fawa’id, hal. 158).
Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Ikhlas dalam beramal karena Allah ta’ala merupakan rukun paling mendasar bagi setiap amal salih. Ia merupakan pondasi yang melandasi keabsahan dan diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, sebagaimana halnya mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dalam melakukan amal merupakan rukun kedua untuk semua amal salih yang diterima di sisi Allah.” (Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 49)
***
Penulis: Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artike

Imam al-Ghazali, mahaguru ilmu tasawuf Islam ternama, dalam kajian tasawufnya membagi orang yang beramal di dunia ini ke dalam beberapa kriteria. Pertama, beramal karena takut masuk neraka. Kedua, beramal karena mengharapkan surga. Ketiga, beramal karena didorong oleh rasa syukur atas nikmat Allah SWT dan mengharapkan keridhaan-Nya. Kata al-Ghazali, yang ketiga inilah amal yang paling sempurna keikhlasannya.

Dalam konteks ini sangat menarik disimak ucapan sufi besar Rabi'ah al-'Adawiyah, yang pada suatu hari ini berkata, mau membakar surga. Surga dianggap telah mengaburkan tujuan manusia melakukan amal kebajikan sehingga tidak lagi karena Allah melainkan lantaran mengharapkan imbalan surga. Padahal, manusia diperintahkan beramal karena Allah (lillahi ta'ala), bukan karena surga. Di hari lain Rabi'ah al-Adawiyah berkata hendak menyiram api neraka. Menurutnya, nereka telah mengaburkan alasan manusia menjauhi perbuatan maksiat, yaitu bukan karena takut kepada Allah, tetapi karena takut dengan api neraka.

Selain beramal dengan ikhlas, seorang Muslim hendaklah beramal secara ihsan. Abdurrahman 'Azzam Pasha (penulis buku Risalah Chalidah --Perdamaian Abadi) memberi pengertian ihsan sebagai berikut: "Anda berbuat suatu kebaikan padahal itu bukan menjadi kewajiban Anda."

Dengan kata lain, seseorang mencapai tingkat ihsan dalam beramal apabila ia melakukan amal kebajikan tersebut bukan lantaran adanya kewajiban syariat semata, melainkan karena cinta kepada kebajikan itu sendiri dan merasa bahagia melakukannya. Di dalam Alquran ditegaskan, Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu (QS Al-Qashash: 77). Rasulullah saw bersabda, "Seorang mukmin tidak akan pernah merasa puas berbuat kebajikan kecuali kalau telah berada di surga."

Dalam satu hadis diceritakan, Aisyah ra pernah bertanya kepada Rasulullah saw, "Mengapa Anda begitu tekun memperbanyak amal ibadah, bukankah Anda telah dijamin tidak berdosa dan pasti masuk surga?" Rasulullah menjawab, "Wahai Aisyah, tidak patutkah saya menjadi hamba Allah yang bersyukur?"
Di bulan ramadhan penuh berkah ini selain menahan haus dan lapar alangkah baiknya ketika kita bisa meningkatkan amal ibadah kita. Itung-itung buat dana akhirat bro! so, mari berbagi mari berlomba kebaikan disekitar kita masih banyak yang membutuhkan.


Ikhlas Beramal

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). (QS. Al-An”aam: 162-163).
Dikisahkan oleh Umamah ra, ada seorang laki-laki yang datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pendapat Engkau tentang seseorang yang berperang dengan tujuan mencari pahala dan popularitas diri. Kelak, apa yang akan ia dapat di akherat?” Rasulullah SAW menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa. Orang itu mengulangi lagi pertanyaannya sampai tiga kali. Tetapi Rasulullah SAW tetap menjawabnya, “Ia tidak menerima apa-apa!” Kemudian Beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan, kecuali yang murni dan yang mengharapkan ridha-Nya”. (HR. Abu Daud dan Nasa’i).
Keterangan itu menjelaskan kepada kita agar meluruskan niat dalam beramal. Amal perbuatan sangat tergantung pada niat. Niat yang baik akan mendapatkan pahala, walaupun amalan itu sangat kecil. Tetapi niat yang buruk akan mendapatkan dosa walaupun amalan itu sangat besar menurut syariat.
Berjihad merupakan amalan yang sangat besar dan memerlukan pengorbanan yang sangat besar pula, baik harta maupun tenaga, bahkan bisa mempertaruhkan nyawa. Pahalanya pun luar bisa. Mati syahid merupakan mati yang paling mulia. Tetapi, jika niatnya buruk, umpamanya karena niat ingin disebut sebagai pejuang yang hebat, maka hasil yang didapatkan adalah kehinaan dan kesengsaraan di akherat nanti. Kisah berikut akan memberikan pelajaran bagi kita, bagaimana seharusnya kita melakukan amal kebaikan. Inilah kisahnya:
Pada hari kiamat yang pertama kali dihisab oleh Allah adalah seorang syahid (orang yang guggur di jalan Allah). Allah memanggilnya dan mengatakan akan nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya. Dia pun mengakuinya, kemudian akan ditanyakan kepadanya: “Apa yang telah kamu lakukan  untuk mensyukuri nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan itu? Syahid itu menjawab: “Aku berperang di jalanMu sehingga aku gugur sebagai syahid”. Maka dijawab oleh Allah: “Kamu dusta,  kamu berperang agar disebut sebagai pemberani (Pahlawan), dan kamu telah memperoleh gelar seperti itu”. Maka ia diseret dengan mukanya dan dimasukan ke dalam neraka Jahannam.
Kemudian seorang ‘alim (orang yang banyak ilmu agamanya) dipanggil. Dia juga akan diingatkan oleh Allah dengan nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya, dan ditanya dengan pertanyaan yang sama. Dia aakan menjawab. “Ya Allah, aku telah menggunakan nikmat-nikmat itu untuk mencari ilmu, mengajar orang lain, dan membaca Al-Quran karena Engkau”. Kemudian Allah berfirman: “Kamu dusta, kamu lakukan semua itu semata-mata untuk dipanggil sebagai ulama, dan kamu telah mendapat gelar itu”. Kemudian diperintahkan supaya dia diseret dengan mukanya dalama keadaan telungkup, dan dimasukan ke dalam neraka Jahannam.
Kemudian seorang hartawan dipanggil ke hadapan Allah. Setelah diingatkan dengan nikmat-nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya, maka dia pun mengakuinya. Sebagai jawaban dari pertanyaan itu, dia berkata: “Tidak ada satu jalan kebaikan pun yang saya tinggalkan, melainkan telah saya belanjakan harta saya di dalamnya karena Engkau”. Allah pun menjawab: “Kamu dusta, kamu lakukan semua itu agar disebut sebagai dermawan, dan kamu pun telah mendapat gelar itu”. Setelah itu ia pun diperintahkan agar diseret dengan keadaan mukanya kebawah dan dicampakkan ke dalam neraka Jahannam.
Kisah itu telah menggambarkan bagaimana akibat orang yang beramal tanpa disertai dengan niat yang baik. Orang-orang itu hanya menginginkan kemashuran di dunia, menginginkan disebut sebagai pahlawan, sebagai ulama, dan sebagai orang dermawan. Mereka itu telah mendapatkan apa yang mereka inginkan di dunia. Tetapi apa yang diperoleh kelak di akherat? Hasilnya adalah “Jahannam”, siksa yang pedih. Mukanya diseret-seret menuju neraka Jahannam. Ingatlah dalam beberapa keterangan disebutkan, jarak  ke nerakan itu sejauh 70 tahun perjalanan. Sungguh megerikan.
Kita harus ingat, meskipun Allah Maha Pengampun tetapi Allah juga Maha Keras Siksanya. Kita sering tergelincir oleh tipu daya syetan. Jika kita telah berbuat dosa, dengan mudahnya mengatakan: “Allah Maha Pengampun”. Itu benar. Tetapi kita ingat juga kisah nabi Adam. Nabi Adam setelah terlempar ke dunia, Beliau bertobat, dan baru diampuni setelah berdo’ dan mohon ampun selama 300 tahun. Itu adalah nabi, bagaimana dengan kita? Karena itulah kita harus waspada. Luruskan niat. Jangan sampai hanya menginginkan kesenangan hidup di dunia saja. Seperti yang diperingatkan dalam Al-Qur’an:
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Huud: 15-16).
Wallahu’alam Bishshowab
Artikel Terkait: Segala Amal Tergantung pada Niat
April 5th, 2010 | Category: Qolbun Salim | 17 comments

Ikhlas: Mudah Diucapkan, Sulit Diamalkan

August 2, 2009 By Zoft-pc 2 Comments
 Ikhlas: Mudah Diucapkan, Sulit Diamalkan
Ikhlas, satu kata yang mudah diucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan.
Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, a€œSesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.a€
Niat adalah pengikat amal. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi teramat sangat penting dan akan membuat hidup ini menjadi lebih mudah, indah dan jauh lebih bermakna.
Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah?
Ya, sebuah amal yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia bertaubat darinya, Allah berfirman yang artinya,
a€œSesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.a€ (QS. An Nisa : 48)
Makna Ikhlas
Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.
Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.
Ciri Orang Yang Ikhlas
Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:
1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, a€œOrang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.a€
Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.
Al-Qura€™an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, a€œOrang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.a€
2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, a€œAku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.a€ (HR Ibnu Majah)
Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.
3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.
Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jamaa€™i dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.
IKHLAS, RAHASIA PARA KEKASIH ALLAH
Seorang sahabat dengan mimik serius mengajukan sebuah pertanyaan,a€œYa kekasih Allah, bantulah aku mengetahui perihal kebodohanku ini. Kiranya engkau dapat menjelaskan kepadaku, apa yang dimaksud ikhlas itu?a€œ
Nabi SAW, kekasih Allah yang paling mulia bersabda,a€œBerkaitan dengan ikhlas, aku bertanya kepada Jibril a.s.apakah ikhlas itu?Lalu Jibril berkata,a€œAku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah ikhlas itu sebenarnya?a€œ Allah SWT yang Mahaluas Pengetahuannya menjawab,a€œIkhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.a€œ(H.R Al-Qazwini)
Dari hadits diatas nampaklah bahwa rahasia ikhlas itu diketahui oleh hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya. Untuk mengetahui rahasia ikhlas kita tidak lain harus menggali hikmah dari kaum arif, salafus shaalih dan para ulama kekasih Allah.
Antara lain Imam Qusyaery dalam kitabnya Risalatul Qusyairiyaah menyebutkan bahwa ikhlas berarti bermaksud menjadikan Allah sebagi satu-satunya sesembahan. Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk. Dikatakan juga keikhlasan berarti melindungi diri sendiri dari urusan individu manusia.
Menjaga Amalan Agar Tetap Ikhlas
Seorang hamba akan terus berusaha untuk melawan iblis dan bala tentaranya hingga ia bertemu dengan Tuhannya kelak dalam keadaan iman dan mengikhlaskan seluruh amal perbuatannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-hal tersebut adalah
1. Banyak Berdoa
Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan banyak berdoa kepada Allah. Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah doa:
?????????? ?????? ???????? ???? ???? ???????? ???? ??????? ???????? ???????????????? ????? ??? ??????
a€œYa Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.a€ (Hadits Shahih riwayat Ahmad)
Nabi kita sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan padahal beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan,
2. Menyembunyikan Amal Kebaikan
Hal lain yang dapat mendorong seseorang agar lebih ikhlas adalah dengan menyembunyikan amal kebaikannya. Yakni dia menyembunyikan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain). Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain lebih diharapkan amal tersebut ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah semata. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits,
a€œTujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.a€ (HR Bukhari Muslim).
3. Memandang Rendah Amal Kebaikan
Memandang rendah amal kebaikan yang kita lakukan dapat mendorong kita agar amal perbuatan kita tersebut lebih ikhlas. Di antara bencana yang dialami seorang hamba adalah ketika ia merasa ridha dengan amal kebaikan yang dilakukan, di mana hal ini dapat menyeretnya ke dalam perbuatan ujub (berbangga diri) yang menyebabkan rusaknya keikhlasan. Semakin ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan, maka akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut, bahkan pahala amal kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia. Saa€™id bin Jubair berkata, a€œAda orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannyaa€. Ditanyakan kepadanya a€œBagaimana hal itu bisa terjadi?a€. Beliau menjawab, a€œseseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap adzab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu, sedangkan ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka.a€
4. Takut Akan Tidak Diterimanya Amal
Allah berfirman:
??????????? ????????? ??? ?????? ????????????? ???????? ????????? ????? ????????? ??????????
a€œDan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.a€ (QS. Al Mua€™minun: 60)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut ( Tafsir Ibnu Katsir ).
Tidak Terpengaruh Oleh Perkataan Manusia
Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi oleh manusia. Bahkan Rasulullah pernah menyatakan ketika ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian ia dipuji oleh manusia karenanya, beliau menjawab, a€œItu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.a€ (HR. Muslim)
Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia. Namun saudaraku, janganlah engkau jadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab engkau beramal saleh, karena hal tersebut bukanlah termasuk perbuatan ikhlas. Seorang mukmin yang ikhlas adalah seorang yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan manusia ketika ia beramal saleh. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya dipuji karena beramal sholeh, maka tidaklah pujian tersebut kecuali hanya akan membuat ia semakin tawadhu (rendah diri) kepada Allah. Ia pun menyadari bahwa pujian tersebut merupakan fitnah (ujian) baginya, sehingga ia pun berdoa kepada Allah untuk menyelamatkannya dari fitnah tersebut. Ketahuilah wahai saudaraku, tidak ada pujian yang dapat bermanfaat bagimu maupun celaan yang dapat membahayakanmu kecuali apabila kesemuanya itu berasal dari Allah. Manakah yang akan kita pilih wahai saudaraku, dipuji manusia namun Allah mencela kita ataukah dicela manusia namun Allah memuji kita ?
5. Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka
Sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari bahwa orang-orang yang dia jadikan sebagai tujuan amalnya itu (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah, sama-sama akan berdiri di padang mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, sama-sama akan menunggu keputusan untuk dimasukkan ke dalam surga atau neraka, maka ia pasti tidak akan meniatkan amal perbuatan itu untuk mereka. Karena tidak satu pun dari mereka yang dapat menolong dia untuk masuk surga ataupun menyelamatkan dia dari neraka. Bahkan saudaraku, seandainya seluruh manusia mulai dari Nabi Adam sampai manusia terakhir berdiri di belakangmu, maka mereka tidak akan mampu untuk mendorongmu masuk ke dalam surga meskipun hanya satu langkah. Maka saudaraku, mengapa kita bersusah-payah dan bercapek-capek melakukan amalan hanya untuk mereka?
Keikhlasan seorang abrar adalah apabila amal perbuatannya telah bersih dari riyaa€˜ baik yang jelas maupun tersamar. Sedangkan tujuan amal perbuatannya selalu hanya pahala yang dijanjikan Allah SWT. Adapun keikhlasan seorang hamba yang muqarrabin adalah ia merasa bahwa semua amal kebaikannya semata-mata karunia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayah dan taufik.
Dengan kata lain, amalan seorang hamba yang abrar dinamakan amalan lillah, yaitu beramal karena Allah. Sedangkan amalan seorang hamba yang muqarrabin dinamakan amalan billah, yaitu beramal dengan bantuan karunia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukun dzahir, sedang amal billah menembus ke dalam perasaan kalbu.
Pantaslah seorang ulama ahli hikmah menasihatkan,a€œPerbaikilah amal perbuatanmu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan bahwa tidak ada kekuatan sendiri, bahwa semua kejadian itu hanya semata-mata karena bantuan pertolongan Allah saja.a€œ
Tentulah yang memiliki kekuatan dashyat adalah keikhlasan seorang hamba yang muqarrabin yang senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla.
Sumber

Ikhlas dalam Beramal Ibadah dan Amal Shaleh

Diposting pada 17 June 2009 by ukki pens
adalah melakukan suatu amal kebaikan, dan dalam melaksanakannya ditujukan semata-mata untuk Allah. Al Quran menyuruh kita ikhlas. Perhatikan firman-Nya sbb :”dan (Aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS Yunus [10]: 105).
Rasulullah SAW mengingatkan, Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata. (HR Abu Dawud dan Nasai). Imam Ali ra juga berkata, Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.
Kendati bersimbah peluh, menghabiskan tenaga, menguras pikiran, kalau tidak ikhlas, sebesar apa pun amal, sia-sia di mata Allah. Maka, sangat rugi orang yang sedekah habis-habisan hanya ingin disebut dermawan.
Ikhlas berarti kita tidak memanggil siapa pun selain Allah SWT untuk menjadi saksi atas perbuatan kita.
Ikhlas akan membuat jiwa menjadi independen, merdeka, tidak dibelenggu pengharapan akan pujian, tidak haus akan imbalan. Hati menjadi tenang karena ia tidak diperbudak penantian mendapat penghargaan ataupun imbalan dari makhluk. Penantian adalah hal yang tidak nyaman, menunggu pujian atau imbalan adalah hal yang dapat meresahkan, bahkan bisa mengiris hati bila ternyata yang datang sebaliknya.. Orang yang tidak ikhlas akan banyak menemui kekecewaan dalam hidupnya, karena orang yang tidak ikhlas banyak berharap pada makhluk yang lemah.
Imbalan dari manusia tidak ada apa-apanya dibanding imbalan dari Allah SWT.
Perhatikan firman Allah SWT di surah An-Nisa [4] ayat 146 :
Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikandan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. Subhaanallah, adakah yang lebih berharga dari pemberian Allah?
Namun dalam kehidupan ini, kadang kita memang menemukan kenyataan, kalau ternyata amal ibadah atau amal kebaikan yang kita lakukan dengan sembunyi-sembunyi dan tidak diketahui orang lain, ternyata justru kadang jadi mengundang, fitnah, gosip, omongan yang tidak enak tentang kita. Mungkin karena orang lain tidak tahu kalau sebenarnya kita ini sudah melakukan amal shaleh, amal kebaikan seperti sedekah, tapi kita menyembunyikannya karena Allah. Maka karena ketidaktahuannya, orang-orang akan menilai kita ini sebagai orang yang pelit, tidak mau sedekah, tidak mau beramal saleh.
Untuk masalah seperti ini, sebaiknya jangan kita pedulikan omongan orang pada kita. Tetap saja jaga kerahasiaan amal kebaikan kita. Jangan pedulikan pandangan orang, cukup puas saja dengan pandangan Allah terhadap kita. Dan masalah omongan atau di gunjingkan yang tidak2, yang mungkin mengatakan kita itu pelit, kikir dan sebagainya, kita serahkan semua pada Allah.
Dalam beramal saleh atau berbuat kebaikan, seperti sedekah dan lainnya, sebaiknya kita BENAR-BENAR MERASA CUKUP HANYA ALLAH SAJA YANG MENJADI SAKSI DARI APA YANG KITA LAKUKAN, Dan yang tidak kalah penting, jangan sampai kita terjebak riya yang samar, seperti merasa bangga apabila kita sudah berhasil menyembunyikan amal kebaikan kita, kalau kita seperti itu, maka hancurlah amal kita.
Dalam melakukan setiap amal kebaikan, yang paling mendasar yang perlu dipahami adalah, bahwa segala amal kebaikan yang kita lakukan, itu bukanlah atas kemampuan kita sendiri, tapi itu adalah karena bantuan, pertolongan dan ijin Allah. Dengan memahami hal tersebut diatas, Insya Allah kita bisa memperbaiki amal ibadah kita dengan ikhlas, selamat dari berbangga diri karena telah berhasil melakukannya. Dan InsyaAllah bisa selamat dari riya. Serta Insya Allah, bisa melindungi kita dari keinginan mengungkapkan amal kebaikan kita dihadapan mahluk, apabila kita mendapati kenyataan diri kita digosipkan, dinilai sebagai orang yang enggan beramal kebaikan, karena kita ikhlas, maka kita menyerahkan semua pada Allah SWT.
Sumber : http://jalandakwahbersama.wordpress.com dan tambahan saya

Ikhlas Dalam Beramal

Oleh KH. Abdullah Gymnastiar
Ditulis Untuk Harian Waspada
Semoga Allah mengaruniakan kita hati yang ikhlas, karena walau menghabiskan tenaga, terkuras pikiran kalau tidak ikhlas tidak ada nilainya disisi Allah. Sungguh suatu keberuntungan yang besar bagi yang ikhlas. Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikan adalah sama.
Berbeda dengan yang kurang ikhlas, ibadahnya justru lebih bagus dilakukan ketika ada orang lain yang memperhatikan. Lalu seperti apakah tanda-tanda orang yang ikhlas itu?
Pertama, Ia tidak mencari popularitas dan tidak menonjolkan diri. Karena ia sadar, sehebat apapun ketenaran disisi manusia tiada berarti di hadapan Allah andaikata tidak memiliki keikhlasan. Seorang hamba ahli ikhlas tidak sibuk menonjolkan diri, menyebut-nyebut amalnya, memamerkan hartanya, keilmuannya, kedudukannya, dan aneka topeng duniawi lainnya. Karena itu tiada berguna kalau Allah menghinakannya
Kedua, Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian. Baginya pujian hanyalah sangkaan orang pada kita, padahal kita tahu keadaan diri kita yang sebenarnya. Bagi seorang yang ikhlas, dipuji, dihargai, tidak dipuji, bahkan dicaci sama saja. Karena baginya pujian dari Allah-lah yang terpenting. Allah-lah tujuan dari segala amalnya.
Ketiga, Tidak silau dan cinta jabatan. Allah tidak pernah menilai pangkat dan jabatan seseorang, namun yang dinilai adalah tanggung jawab terhadap amanah dari jabatannya. Maka hamba Allah yang ikhlas tidak bangga dan ujub karena jabatannya.
Keempat, Tidak dipebudak Imbalan dan balas budi. Seorang hamba ahli ikhlas sangat yakin kepada janji dan jaminan Allah, baginya mustahil Allah memungkiri janji-janji-Nya. Bagi seorang hamba yang ikhlas, rezekinya adalah ketika ia berbuat sesuatu bukan ketika mendapatkan sesuatu. Balasannya cukup dari Allah saja, yang pasti, tidak akan meleset, dan tidak akan salah perhitungan-Nya.
Kelima, Tidak mudah kecewa. Seorang yang ikhlas yakin benar bahwa apa yang diniatkan dengan baik, lalu terjadi atau tidak yang ia niatkan itu, semuanya pasti telah dilihat dan dinilai oleh Allah SWT.
Keenam, Tidak Membedakan Amal Besar dan Amal Kecil. Seorang hamba yang ikhlas tidak peduli amal itu kecil dalam pandangan manusia atau tidak, ada yang menyaksikan atau tidak. Karena dihadapan Allah tidak ada satupun amal yang remeh andaikata dilakukan dengan tulus sepenuh hati karena Allah semata.
Ketujuh, Tidak fanatik golongan. Seorang muslim yang ikhlas sangat sadar bahwa tujuan dari perjuangan hidupnya adalah Allah SWT, maka yang akan dibela pun adalah kepentingan yang diridhoi oleh Allah. Tidak tegantung perasaan pribadi. Selama apa yang diperjuangkan adalah untuk membela agama Islam, maka ia pun akan turut membela.
Kedelapan, Ringan, lahab dan Nikmat dalam Beramal. Keikhlasan adalah buah keyakinan yang mendalam dari seorang hamba Allah sehingga perbuatan apapun yang disukai oleh Allah, dapat membuatnya bertambah dekat dengan Allah, akan menjadi program kesehariannya. Semua dilakukan dengan ringan, lahab, dan nikmat.
Kesembilan, Tidak egois karena selalu mementingkan kepentingan bersama. Orang yang ikhlas tidak pernah keberatan dengan keberadaan orang lain yang lebih pandai, lebih sholeh, lebih bermutu darinya. Meski menurut pandangan manusia ia akan tesaingi dengan keberadaan orang yang melebihi dirinya, namun orang yang ikhlas beramal bukan untuk mencari popularitas. Baginya yang terpenting adalah maju bersama demi kepentingan bersama.
Kesepuluh, Tidak Membeda-bedakan dalam pergaulan. Seorang yang ikhlas tidak akan membeda-bedakan teman. Tegur sapanya tidak akan terbatas pada orang tertentu, senyumnya tidak akan terbatas pada yang dikenalnya, dan pintunya selalu terbuka untuk siapa saja.
Subhanallah, demikian luhurnya tanda-tanda seorang hamba yang ikhlas. pakah tanda-tanda tesebut ada dalam diri kita ? Bersyukurlah bagi hamba ang dalam dirinya telah dilingkupi tanda-tanda keikhlasan. Wallahu a’lam bish showab



Ikhlas dalam beramal

Ikhlas dalam beramal
Amal yang pasti diterima adalah yang dikerjakan dengan ikhlas. Amal hanya karena Allah semata, dan tidak ada harapan kepada makhluk sedikit pun. Niat ikhlas bisa dilakukan sebelum amal dilakukan, bisa juga disaat melakukan amal atau setelah amal dilakukan.

Saudaraku, salah satu karunia Allah yang harus disyukuri adalah adanya kesempatan untuk beramal. Menjadi jalan kebaikan dan memberikan manfaat kepada orang lain. Karenanya, jangan pernah menunda kebaikan ketika kesempatan itu datang. Lakukan kebaikan semaksimal mungkin dan lupakan jasa yang sudah dilakukan. Serahkan segalanya hanya kepada Allah. Itulah aplikasi dari amal yang ikhlas.

Ketika orang lain merasakan manfaat dari amal yang kita perbuat, maka yakinilah bahwa tidak ada perlunya kita membanggakan diri karena merasa berjasa. Itu semua hanya akan menghapus nilai pahala dari amal yang diperbuat. Setiap kebaikan yang kita lakukan mutlak karunia dari Allah, yang menghendaki kita terpilih agar bisa melakukan amal baik tersebut.

Sekiranya Allah menakdirkan kita bisa bersedekah kepada anak yatim, itu berarti kita harus bersyukur telah menjadi jalan sampainya hak anak yatim. Tidak perlu merasa berjasa karena hakekatnya kita hanyalah perantara hak anak yatim itu, lewat harta, tenaga dan kekuasaan yang Allah titipkan kepada kita.

Selain itu, hindari sifat ’merasa’ lebih dari yang lain. Merasa pintar, merasa berjasa, merasa dermawan, apalagi merasa shaleh, seakan-akan surga dalam genggamannya. Semua yang kita miliki adalah titipan yang Allah karuniakan kepada kita untuk dipergunakan sebagai sarana penghambaan kepada-Nya.

Ketahuilah bahwa banyaknya pahala dari sebuah amal itu menunjukan kecintaan Allah bagi mereka yang mengerjakan amal tersebut dengan ikhlas. Rangkaian ujian menjadi bumbu dalam melaksanakan amal tersebut. Namun bagi yang benar-benar melakukannya hanya karena Allah, maka ia diberi ketenangan dalam menjalankannya. Insya Allah pertolongan Allah amatlah dekat bagi hamba yang berada di jalan-Nya.

Ikhlas dalam Beribadah dan Beramal

Posted by admin Saturday 3 July 2010 11:19 am
baenuri
BAENURI S.Pd
Madrasah Aliyah Negeri Cibinong Bogor (085813621959)
Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hadirin Kaum Muslimin rahimakumullah
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita, memberikan pelbagai kenikmatan kepada kita dan menunjukkan kepada kita agama yang diridhoi-Nya, yakni agama Islam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada baginda alam Nabi Besar muhammad SAW. Dan tidak lupa pula marilah kita manfaatkan sisa waktu yang ada pada kita untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita menambah ilmu, menambah amal dan mempertebal keimanan, sehingga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang taqwa.
Hadirin kaum muslimin rakhimakumullah
Diantara akhlak seorang hamba terhadap Allah SWT adalah Ikhlas dalam beribadah dan beramal kepada-Nya. Ikhlas dapat diartikan sebagai upaya untuk memurnikan, membersihkan dan mensucikan hati dari segala sifat ragu dan was-was dalam meyakini dan menerima keesaan Allah, serta melakukan penyembahan terhadap-Nya dengan ketaatan penuh. Sedangkan berdasarkan Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 207

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَاللّهُ رَؤُوفٌ بِالْعِبَادِ ﴿٢٠٧

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.
dan surat Al Insan ayat 7-8

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْماً كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيراً ﴿٧

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِيناً وَيَتِيماً وَأَسِيراً ﴿٨

Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
Ikhlas itu adalah mengerjakan amal-amal yang didasarkan pada sunnah dan semata-mata mencari keridhaan Allah SWT.
Untuk mewujudkan keikhlasan dalam beribadah dan beramal kepada Allah, seorang hamba dituntut untuk beramal sesuai dengan ilmu, memiliki rasa takut hanya kepada Allah dan selalu memikirkan kematian. Dengan ilmu seorang dapat membedakan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang baik dan mana yang buruk, mana amalan yang termasuk adat dan mana amalan yang termasuk syariat. Dengan memiliki rasa takut kepada Allah seseorang akan berusaha dan berupaya untuk selalu berhati-hati, baik dalam tindakan maupun dalam perbuatan. Dengan memikirkan kematian seseorang akan terdorong hatinya untuk melakukan ibadah kepada Allah dengan penuh kesungguhan dan diwarnai kekhusu’an.
Bila hal-hal diatas sudah meresap dalam diri seseorang, tentunya dia akan memiliki jiwa yang tenang dan memiliki kekuatan rohani yang besar sehingga sulit ditembus oleh syetan. Bila sudah demikian, orang itu akan dapat merasakaan alezatnya iman dan pada saatnya nanti jika dia meninggal, dia akan mendapat teman yang menyenangkan didalam kuburnya. Dan lebih jauh lagi, diakhirat kelak dia akan mendapatkan pahala yang sempurna dan memilkiki kedudukan sebagaimana kedudukan para nabi, para shiddiqun dan para syuhada.
Hadirin kaum muslimin rakhimakumullah
Orang yang ikhlas dalam beribadah dan beramal kepada Allah tidak pernah mengharapkan balas budi dari amal yang dia lakukan, tidak mengharapkan pujian orang lain dan tidak pamrih terhadap pangkat, jabatan dan kedudukan ” Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih “.
Hadirin yang berbahagia,
Orang yang ikhlas dalam beribadah dan beramal kepada Allah senantiasa melupakan amal yang telah dia lakukan, orang yang ikhlas akan dapat menahan diri dari sikap kecewa bila amal yang dia lakukan tidak sesuai dengan harapan. Orang yang ikhlas dalam beribadah dan beramal kepada Allah dalam kesehariannya selalu ringan, lahap dan merasa nikmat dalam beramal. Selain itu orang yang ikhlas selalu meletakkan cinta dan benci, memberi atau tidak memberi dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Itulah tanda-tanda orang yang ikhlas dalam beribadah dan beramal kepada Allah SWT yang telah disarikan dari beberapa ayat dalam Al Qur’an.
Semoga ini semua bisa kita jadikan sebagai barometer dari kadar keikhlasan kita dalam beribadah dan beramal kepada Allah SWT, yang pada akhirnya akan menjadikan diri kita memiliki derajat yang tinggi dalam pandangan Allah SWT maupun dalam pandangan manusia. Amin ya robbal alamin.
Demikianlah khotbah singkat ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan bisa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT
Amin.

Hikmah : Ikhlas Beramal

Ikhlas Beramal

By M Fuad Nasar
REPUBLIKA, Selasa, 23 Juni 2009 pukul 12:47:00


Ikhlas BeramalWORDPRESS.COM/ILUSTRASI
Imam al-Ghazali, mahaguru ilmu tasawuf Islam ternama, dalam kajian tasawufnya membagi orang yang beramal di dunia ini ke dalam beberapa kriteria. Pertama, beramal karena takut masuk neraka. Kedua, beramal karena mengharapkan surga. Ketiga, beramal karena didorong oleh rasa syukur atas nikmat Allah SWT dan mengharapkan keridhaan-Nya. Kata al-Ghazali, yang ketiga inilah amal yang paling sempurna keikhlasannya.
Dalam konteks ini sangat menarik disimak ucapan sufi besar Rabi’ah al-’Adawiyah, yang pada suatu hari ini berkata, mau membakar surga. Surga dianggap telah mengaburkan tujuan manusia melakukan amal kebajikan sehingga tidak lagi karena Allah melainkan lantaran mengharapkan imbalan surga. Padahal, manusia diperintahkan beramal karena Allah (lillahi ta’ala), bukan karena surga. Di hari lain Rabi’ah al-Adawiyah berkata hendak menyiram api neraka. Menurutnya, nereka telah mengaburkan alasan manusia menjauhi perbuatan maksiat, yaitu bukan karena takut kepada Allah, tetapi karena takut dengan api neraka.
Selain beramal dengan ikhlas, seorang Muslim hendaklah beramal secara ihsan. Abdurrahman ‘Azzam Pasha (penulis buku Risalah Chalidah –Perdamaian Abadi) memberi pengertian ihsan sebagai berikut: “Anda berbuat suatu kebaikan padahal itu bukan menjadi kewajiban Anda.”
Dengan kata lain, seseorang mencapai tingkat ihsan dalam beramal apabila ia melakukan amal kebajikan tersebut bukan lantaran adanya kewajiban syariat semata, melainkan karena cinta kepada kebajikan itu sendiri dan merasa bahagia melakukannya. Di dalam Alquran ditegaskan, Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu (QS Al-Qashash: 77). Rasulullah saw bersabda, “Seorang mukmin tidak akan pernah merasa puas berbuat kebajikan kecuali kalau telah berada di surga.”
Dalam satu hadis diceritakan, Aisyah ra pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Mengapa Anda begitu tekun memperbanyak amal ibadah, bukankah Anda telah dijamin tidak berdosa dan pasti masuk surga?” Rasulullah menjawab, “Wahai Aisyah, tidak patutkah saya menjadi hamba Allah yang bersyukur?”   ahi

ReviewReview
May 5, '08 3:12 AM
for everyone
Category:
Other

Oleh: Mochamad Bugi

Jika ada kader dakwah merasakan kekeringan ruhiyah, kegersangan ukhuwah, kekerasan hati, hasad, perselisihan, friksi, dan perbedaan pendapat yang mengarah ke permusuhan, berarti ada masalah besar dalam tubuh mereka. Dan itu tidak boleh dibiarkan. Butuh solusi tepat dan segera.

Jika merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kita akan menemukan pangkal masalahnya, yaitu hati yang rusak karena kecenderungan pada syahwat. “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46). Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi). Imam Al-Ghazali pernah ditanya, ”Apa mungkin para ulama (para dai) saling berselisih?” Ia menjawab,” Mereka akan berselisih jika masuk pada kepentingan dunia.”

Karena itu, pengobatan hati harus lebih diprioritaskan dari pengobatan fisik. Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan. Dan obat hati yang paling mujarab hanya ada dalam satu kata ini: ikhlas.

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, ”Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, ”Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, ”Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, ”Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Karena itu, bagi seorang dai makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian si dai menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” Dai yang berkarakter seperti itulah yang punya semboyan ‘Allahu Ghayaatunaa’, Allah tujuan kami, dalam segala aktivitas mengisi hidupnya.

Buruknya Riya

Makna riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, ”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad).

Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw., “Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)

Ciri Orang Yang Ikhlas

Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:

1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”

Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.

Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”

2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)

Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.

3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.

Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.

Sumber: dakwatuna, 3/5/2008 | 27 Rabiul Akhir 1429 H

 Ni cm siMpuLan ya,, siLahkan liat tautan terkaitttt

0 komentar:

Poskan Komentar