Sabtu, 09 April 2011

Bentuk Finishing atau Penyelesaian dalam Pengatalogan


G.    FINISHING

Secara bahasa finishing berarti penyelesaian. Dalam hal ini berarti kita menyelesaikan atau menuntaskan pekerjaan mengkatalog hingga buku benar-benar siap untuk dirakkan. Ada beberapa kegiatan dalam finishing, yaitu : pengetikan kartu katalog (entri data ke komputer bagi perpustakaan yang sudah komputerisasi), pelabelan buku, penempelan kantong dan kartu buku, penempelan slip tanggal kembali (date due slip), penjajaran (filing) kartu katalog, dan penjajaran buku di rak (shelfing).
1.      Pengetikan kartu katalog  
Ada dua macam sistem pengetikan kartu katalog, yakni sistem tradisional (yang selalu menggunakan tajuk entri utama dengan beberapa entri tambahan) dan sistem entri tajuk alternatif (alternative heading entries) yang tidak lagi membedakan entri utama dan entri tambahan. Dalam sistem ini semua entri didasarkan pada judul dan nilainya dianggap sama. Setiap tajuk akan dicantumkan langsung di atas deskripsi standar (ISBD).Sistem alternatif ini tampaknya lebih sederhana dan lebih mudah serta lebih praktis jika dibandingkan  dengan sistem  yang menggunakan entri utama. 
Dengan melihat contoh di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sistem yang kedua (sistem alternatif) memang lebih sederhana dan dapat dijadikan sebagai pilihan bagi perpustakaan. Namun demikian pilihan tetap diserahkan pada kebijakan masing-masing perpustakaan.

2. Membuat label

Label buku adalah merupakan call number (nomor panggil buku), biasanya diketik pada kertas berukuran 3,5 X 2,5 cm. dan ditempel pada punggung buku  dengan ukuran kurang lebih tiga centimeter dari bawah atau disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk memudahkan pekerjaan sebaiknya gunakanlah kertas label yang siap pakai sehingga tinggal menempelkannya. Adapun isi call number   adalah berupa nomor kelas yang terdapat di katalog. Lihatlah contoh berikut :

Text Box:           2X0
          TAJ
            d
Text Box:         492.03
        YUN
           k   
Text Box:          2X3.541
         QAR
             h





Setelah ditempelkan dengan rapi, sebaiknya label tadi diperkuat dan dilindungi dengan isolasi agar tahan lama dan tidak cepat lepas, atau lebih baik lagi jika buku langsung disampul dengan sampul plastik, sehingga lebih awet.

3. Kantong dan Kartu Buku

Kantong buku diperlukan untuk meletakkan kartu buku, ditempel di bagian belakang buku (pada halaman terakhir). Pada kantong perlu dicantumkan nomor induk buku. Adapun pada kartu buku dicantumkan nomor klasifikasi, nomor induk buku, keterangan copy, volume, nama pengarang, judul buku, dan kolom tanggal pinjam.Ukuran kartu biasanya 7,5 X 13 cm. Baik kartu maupun kantong buku tersebut bisa dibuat sendiri atau dipesan pada percetakan. 

Jika kolom kartu buku telah habis terpakai semuanya maka perlu diganti dengan kartu yang baru lagi.

4. Menempelkan date due slip
         
Date due slip (lembaran tanggal kembli) adalah lembar / slip yang ditempelkan pada halaman yang bersebelahan dengan kantong buku. Slip ini memuat kolom tanggal kembali, gunanya agar peminjam mengetahui kapan dia harus mengembalikan buku tersebut. Date due slip cukup dibuat dengan kertas biasa (tidak perlu dari percetakan). Posisi menempelkan slip ini perlu diperhatikan agar tidak merusak halaman buku. 
1.      Penjajaran Kartu Katalog (filing)
Sebagai sarana temu balik, katalog perlu disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan penelusuran. Dalam mencari bahan pustaka seorang user biasanya mendekatinya melalui salah satu  dari  tiga pendekatan yang ada. Ada yang melalui pendekatan judul, ada yang melalui pendekatan pengarang, ada pula yang melalui subjeknya.
 Berbagai sistem penyusunan katalog telah dibuat dan diterapkan untuk memenuhi hal tersebut di atas. Di Inggris banyak perpustakaan menyusunnya dengan susunan entri berdasarkan klasifikasi, sehingga dperlukan tiga jajaran yakni jajaran berdasarkan klasifikasi, jajaran menurut abjad pengarang dan judul serta indeks subjek. Sebaliknya di Amerika, banyak dijumpai susunan leksikal (dictionary catalog) artinya entri pengarang, judul, dan subjek dijajarkan menjadi satu, disusun menurut abjad.  Ada pula perpustakaan yang menyusunnya menurut katalog terbagi dengan tiga jajaran yang semuanya disusun alfabetis, yaitu jajaran pengarang, judul, dan satu jajaran subjek. Semuanya disusun secara alfabetis.
Hal penting yang harus diperhatikan ketika kita menjajarkan entri-entri katalog, antara lain :
·         Singkatan yang berbentuk inisial diperlakukan sebagai kata yang terpisah, masing-masing terdiri dari satu huruf. Contoh, U.N.O.  Sedangkan akronim diperlakukan sebagai satu kata. Contoh, Pertamina, Kopkamtib, dsb.
·         Singkatan gelar dan bilangan di awal judul, disusun sebagai tertulis lengkap.   Contoh :
                        R.A.      (= Raden Ajeng) Kartini
                        1001     (= Seribu satu hadis) pilihan
·         Kata majemuk  yang dihubungkan dengan tanda penghubung di abjad seperti kata terpisah. Contoh, Afro-Asia  diabjad sebagai Afro Asia. Kata yang dihubungkan dengan awalan bi-, tri-, anti-, dsb. tetap diberlakukan sebagai satu kata.
·         Kata sandang dari bahasa asing pada awal kata seperti : A, The, De, Le, Al, dsb.
      dianggap tidak ada. Susunan didasarkan pada kata berikutnya. Contoh :
                            - Al-Ghazali, disusun pada kata Ghazali                       
                            - The Islamic art, disusun pada kata Islamic


2.      Filing bahan pustaka
Bahan pustaka (pada umumnya berbentuk buku) yang telah selesai proses pengolahannya   perlu dijajarkan dengan susunan yang memudahkan pemakai menemukannya kembali.  Dalam dunia perpustakaan ada dua macam cara penempatan buku di rak. Pertama penempatan yang bersifat tetap (fixed location) dan penempatan berkelas (relative location).
Pada sistem fixed location, setiap buku dtempatkan berdasarkan kronologis atau sesuai dengan urutan nomor induk. Ini berarti setiap buku terbaru menempati urutan terakhir dari penempatan. Sistem ini memang mudah untuk penempatan kembali, namun cukup sulit untuk penelusuran, karena subjek yang ada otomatis bercampur aduk. Pada umumya perpustakaan dengan sistem clossed acess menerapkan cara ini.
Adapun  pada sistem relative location buku ditempatkan sesuai dengan kelasnya masing-masing, sehingga subyek yang sama terkumpul dalam satu tempat. Sistem ini akan mempermudah penelusuran maupun penempatan kembali bahan pustaka tersebut. Dalam hal ini rak perlu dibagi sesuai dengan kelas-kelas yang ada, dan setiap lokasi harus diberi nomor kelas dari yang terkecil ke yang berikutnya.
           



Contoh penempatan tetap :
Text Box:  1
Text Box:  2

Text Box:  3
Text Box:  4

Text Box:  5
Text Box:  6

Text Box:  7
Text Box:  8


           

                                                                                                       dan seterusnya

           
Contoh penempatan relatif :
                                                  2X1.1       2X1.2        2X1.3        2X1.4      
                                                  IBN          MUH        KAT          SHI         
                                                  m              i                  t                 w

Dalam penyusunan buku secara relatif, nomor kelas yang sama diletakkan pada satu tempat dengan urutan sesuai abjad di bawahnya. Jika abjadnya sama, maka diurut lagi sesuai dengan huruf yang di bawahnya lagi. Jika masih sama juga perlu diletakkan sesuai dengan urutan volume (jika ada) dan copy-nya, contoh :

            2X4.8               2X4.8                    2X4.8                2X4.8
            SAB                 SAB                      SAB                  SAB
              f                        f                            f                         f
            v.1 c.1              v.1.c 2                   v.2 c 1               v.2 c.2    dst. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar